MIRRORS ONLY SHOW US WHAT WE ARE. BUT BOOK CAN SHOW US WHAT WE CA N BE
A homepage subtitle here And an awesome description here!

Selasa, 28 Maret 2017

Presiden KH. Abdur Rahman Wahid

Abdurharman Wahid 



BIOGRAFI
Kyai Haji Abdurrahman Wahid atau yang akrab dipanggil Gus Dur lahir di Jombang, Jawa Timur pada tanggal 7 September 1940. Ia lahir dengan nama Abdurrahman Adakhil yang berarti sang penakluk. Karena kata “Adakhil” tidak cukup dikenal, maka diganti dengan nama “Wahid” yang kemudian lebih dikenal dengan Gus Dur. Gus adalah panggilan kehormatan khas Pesantren kepada seorang anak kiai yang berarti “abang atau mas”.

Gus Dur adalah anak pertama dari enam bersaudara. Ia lahir dari keluarga yang cukup terhormat. Kakek dari ayahnya, K.H. Hasyim Asyari, merupakan pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Sementara itu kakek dari pihak ibu, K.H. Bisri Syansuri, adalah pengajar pesantren pertama yang mengajarkan kelas pada perempuan. Ayahnya K.H. Wahid Hasyim merupakan sosok yang terlibat dalam Gerakan Nasionalis dan menjadi Menteri Agama tahun 1949, sedangkan ibunya Ny. Hj. Sholehah adalah putri pendiri Pondok Pesantren Denayar Jombang.

Gus Dur pernah menyatakan secara terbuka bahwa ia adalah keturunan TiongHoa dari Tan Kim Han yang menikah dengan Tan a Lok, yang merupakan saudara kandung dari Raden Patah (Tan Eng Hwa) yang merupakan pendiri kesultanan Demak. Tan a Lok dan Tan Eng Hwa ini merupakan anak dari Puteri Campa yang merupakan Puteri Tiongkok yaitu selir Raden Brawijaya V. Berdasarkan penelitian seorang peneliti Perancis Louis Charles Damais, Tan Kim Han diidentifikasikan sebagai Syekh Abdul Qodir Al Shini yang makamnya ditemukan di Trowulan.

Pada tahun 1944 Abdurrahman Wahid pindah dari kota asalnya Jombang menuju Jakarta, karena pada saat itu ayahnya terpilih menjadi ketua pertama Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia yang biasa disingkat “Masyumi”. Masyumi adalah sebuah organisasi dukungan dari tentara Jepang yang pada saat itu menduduki Indonesia. Setelah deklarasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, Gus Dur kembali ke Jombang dan tetap berada di sana selama perang mempertahankan kedaulatan Indonesia melawan Belanda. Ia kembali ke Jakarta pada akhir perang tahun 1949 karena ayahnya ditunjuk sebagai Menteri Agama.

Gus Dur menempuh ilmu di Jakarta dengan masuk ke SD Kris sebelum pindah ke SD Matraman Perwari. Pada tahun 1952 ayahnya sudah tidak menjadi Menteri Agama tetapi beliau tetap tinggal di Jakarta. Pada tahun 1953 di bulan April ayah Gus Dur meninggal dunia akibat kecelakaan mobil.

Pada tahun 1954 pendidikannya berlanjut dengan masuk ke sekolah menengah pertama, yang pada saat itu ia tidak naik kelas. Lalu ibunya mengirimnya ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikan.

Setelah lulus dari SMP pada tahun 1957, Gus Dur memulai pendidikan muslim di sebuah Pesantren yang bernama Pesantren Tegalrejo di Kota Magelang. Pada tahun 1959 ia pindah ke Pesantren Tambakberas di Kota Jombang. Sementara melanjutkan pendidikanya, ia juga menerima pekerjaan pertamanya sebagai seorang guru yang nantinya sebagai kepala sekolah madrasah.  Bahkan ia juga bekerja sebagai jurnalis Majalah Horizon serta Majalah Budaya Jaya.

Pada tahun 1963, ia menerima beasiswa dari Kementrian Agama untuk melanjutkan pendidikan di  Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir. Ia pergi ke Mesir pada November tahun 1963. Universitas memberitahu Gus Dur untuk mengambil kelas remedial sebelum belajar bahasa Arab dan belajar islam. Meskipun mahir berbahasa Arab, ia tidak mampu memberikan bukti bahwa sesungguhnya ia mahir berbahasa Arab. Ia pun terpaksa harus mengambil kelas remedial.

Pada tahun 1964 Gus Dur sangat menikmati kehidupannya di Mesir.  Ia menikmati hidup dengan menonton film Eropa dan Amerika, dan juga menikmati menonton sepakbola. Gus Dur juga terlibat dengan Asosiasi  Pelajar Indonesia dan menjadi jurnalis majalah dari asosiasi tersebut. Akhirnya ia berhasil lulus dari kelas remedialnya pada akhir tahun. Pada tahun 1965 ia memulai belajar ilmu Islam dan juga bahasa Arab. Namun Gus Dur kecewa dan menolak metode belajar dari universitas karena ia telah mempelajari ilmu yang diberikan.

Di Mesir, Gus Dur bekerja di Kedutaan Besar Indonesia. Namun pada saat ia bekerja peristiwa Gerakan 30 September (G 30 S) terjadi. Upaya pemberantasan komunis dilakukan di Jakarta dan yang menangani saat itu adalah Mayor Jendral Suharto. Sebagai bagian dari upaya tersebut.  Gus Dur diperintahkan untuk melakukan investigasi terhadap pelajar universitas dan memberikan laporan kedudukan politik mereka. Ia menerima perintah yang ditugaskan menulis laporan.

Akhirnya ia mengalami kegagalan di Mesir. Hal ini terjadi karena Gus Dur tidak setuju akan metode pendidikan di universitas dan pekerjaannya setelah G 30 S sangat mengganggu dirinya. Pada tahun 1966 ia harus mengulang pendidikannya. Namun pendidikan pasca sarjana Gus Dur diselamatkan oleh beasiswa di Universitas Baghdad. Akhirnya ia pindah menuju Irak dan menikmati lingkungan barunya. Meskipun pada awalnya ia lalai, namun ia dengan cepat belajar. Gus Dur juga meneruskan keterlibatannya dengan Asosiasi Pelajar Indonesia dan sebagai penulis majalah Asosiasi tersebut.

Pada tahun 1970 ia menyelesaikan pendidikannya di Universitas Baghdad. Setelah itu, Gus Dur ke Belanda untuk meneruskan pendidikan. Ia ingin belajar di Universitas Leiden, namun ia kecewa karena pendidikan di Universitas Baghdad tidak diakui oleh universitas tersebut. Akhirnya ia pergi ke Jerman dan Perancis sebelum kembali lagi ke Indonesia pada tahun 1971.

Di Jakarta, Gus Dur berharap akan kembali ke luar negeri untuk belajar di Universitas McGill di Kanada. Ia pun bergabung ke Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES). Organisasi ini terdiri dari kaum intelektual  muslim progresif dan sosial demokrat. LP3ES mendirikan majalah yang bernama Prima dan Gus Dur menjadi salah satu kontributor utama majalah tersebut. Beliau berkeliling pesantren di seluruh Jawa.

Pada saat itu pesantren berusaha keras untuk mendapatkan pendanaan dari pemerintah dengan mengadopsi kurikulum pemerintah. Karena nilai-nilai pesantren semakin luntur akibat perubahan ini, Gus Dur pun prihatin dengan kondisi tersebut. Ia juga prihatin akan kemiskinan yang melanda pesantren yang ia lihat. Melihat kondisi tersebut Gus Dur membatalkan belajar ke luar negeri dan lebih memilih mengembangkan pesantren.

Akhirnya ia meneruskan kariernya sebagai seorang jurnalis pada Majalah Tempo dan Koran Kompas. Tulisannya dapat diterima dengan baik. Ia mengembangkan reputasi sebagai komentator sosial. Dengan itu ia mendapatkan banyak undangan untuk memberikan seminar sehingga membuatnya sering pulang dan pergi antara Jakarta dan Jombang.

Meskipun kariernya bisa meraih kesuksesan namun ia masih merasa sulit hidup karena hanya memiliki satu sumber pencaharian. Ia pun bekerja kembali dengan profesi berbeda untuk mendapatkan pendapatan tambahan dengan menjual  kacang dan mengantarkan es. Pada tahun 1974 ia menjabat sebagai Sekretaris Umum Pesantren Tebu Ireng hingga tahun 1980. Pada tahun 1980 ia menjabat sebagai seorang Katib Awwal PBNU hingga pada tahun 1984. Pada tahun 1984 ia naik pangkat sebagai Ketua Dewan Tanfidz PBNU. Tahun 1987 Gus Dur menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia. Pada tahun 1989 kariernya pun meningkat dengan menjadi seorang anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat RI. Dan hingga akhirnya pada tahun 1999 sampai 2001 ia menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.

Sebagai seorang Presiden RI, Gus Dur memiliki pendekatan-pendekatan yang berbeda dalam menyikapi suatu permasalahan bangsa. Ia melakukan pendekatan yang lebih simpatik kepada kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM), mengayomi etnis Tionghoa , meminta maaf kepada keluarga PKI yang mati dan disiksa, dan lain-lain. Selain itu, Gus Dur juga dikenal sering melontarkan pernyataan-pernyataan kontroversial, yang salah satunya adalah mengatakan bahwa anggota MPR RI seperti anak TK.

Hanya sekitar 20 bulan Gus Dur menjabat sebagai Presiden RI. Musuh-musuh politiknya memanfaatkan benar kasus Bulloggate dan Bruneigate untuk menggoyang kepemimpinannya. Belum lagi hubungan yang tidak harmonis dengan TNI, Partai Golkar, dan elite politik lainnya. Gus Dur sendiri sempat mengeluarkan dekrit yang berisi (1) pembubaran MPR/DPR, (2) mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat dengan mempercepat pemilu dalam waktu satu tahun, dan (3) membekukan Partai Golkar sebagai bentuk perlawanan terhadap Sidang Istimewa MPR. Namun dekrit tersebut tidak memperoleh dukungan dan pada 23 Juli 2001, MPR secara resmi memberhentikan Gus Dur dan menggantikannya dengan Megawati Sukarnoputri.

Sebelumnya, pada Januari 2001, Gus Dur mengumumkan bahwa Tahun Baru Cina (Imlek) menjadi hari libur opsional. Tindakan ini diikuti dengan pencabutan larangan penggunaan huruf Tionghoa.

Setelah berhenti menjabat sebagai presiden, Gus Dur tidak berhenti untuk melanjutkan karier dan perjuangannya. Pada tahun 2002 ia menjabat sebagai penasihat Solidaritas Korban Pelanggaran HAM. Dan pada tahun 2003, Gus Dur menjabat sebagai Penasihat pada Gerakan Moral Rekonsiliasi Nasional.

Tahun 2004, Gus Dur kembali berupaya untuk menjadi Presiden RI. Namun keinginan ini kandas karena ia tidak lolos pemeriksaan kesehatan oleh Komisi Pemilihan Umum.

Pada Agustus 2005 Gus Dur menjadi salah satu pimpinan koalisi politik yang bernama Koalisi Nusantara Bangkit Bersatu. Bersama dengan Tri Sutrisno, Wiranto, Akbar Tanjung dan Megawati, koalisi ini mengkritik kebijakan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.

Pada tahun 2009 Gus Dur menderita beberapa penyakit. Bahkan sejak ia menjabat sebagai presiden, ia menderita gangguan penglihatan sehingga surat dan buku seringkali dibacakan atau jika saat menulis seringkali juga dituliskan. Ia mendapatkan serangan stroke, diabetes, dan gangguan ginjal. Akhirnya Gus Dur pun pergi menghadap sang khalik (meninggal dunia) pada hari Rabu 30 Desember 2009 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta pada pukul 18.45 WIB.
PENDIDIKAN
·         1957-1959 Pesantren Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah
·         1959-1963 Pesantren Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur
·         1964-1966 Al Azhar University, Cairo, Mesir, Fakultas Syari'ah (Kulliyah al-Syari'ah)
·         1966-1970 Universitas Baghdad, Irak, Fakultas Adab Jurusan Sastra Arab
KARIR
·         1972-1974 Fakultas Ushuludin Universitas Hasyim Ashari, Jombang, sebagai Dekan dan Dosen
·         1974-1980 Sekretaris Umum Pesantren Tebu Ireng
·         1980-1984 Katib Awwal PBNU
·         1984-2000 Ketua Dewan Tanfidz PBNU
·         1987-1992 Ketua Majelis Ulama Indonesia
·         1989-1993 Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat RI
·         1998 Partai Kebangkitan Bangsa, Indonesia, Ketua Dewan Syura DPP PKB
·         1999-2001 Presiden Republik Indonesia
·         2000 Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Mustasyar
·         2002 Rektor Universitas Darul Ulum, Jombang, Jawa Timur, Indonesia
·         2004 Pendiri The WAHID Institute, Indonesia
PENGHARGAAN
·         2010 Lifetime Achievement Award dalam Liputan 6 Awards 2010
·         2010 Bapak Ombudsman Indonesia oleh Ombudsman RI
·         2010 Tokoh Pendidikan oleh Ikatan Pelajar Nadhlatul Ulama (IPNU)
·         2010 Mahendradatta Award 2010 oleh Universitas Mahendradatta, Denpasar, Bali
·         2010 Ketua Dewan Syuro Akbar PKB oleh PKB Yenny Wahid
·         2010 Bintang Mahaguru oleh DPP PKB Muhaimin Iskandar
·         2008 Penghargaan sebagai tokoh pluralisme oleh Simon Wiesenthal Center
·         2006 Tasrif Award oleh Aliansi Jurnanlis Independen (AJI)
·         2004 Didaulat sebagai “Bapak Tionghoa” oleh beberapa tokoh Tionghoa Semarang
·         2004 Anugrah Mpu Peradah, DPP Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia, Jakarta, Indonesia
·         2004 The Culture of Peace Distinguished Award 2003, International Culture of Peace Project Religions for Peace, Trento, Italia
·         2003 Global Tolerance Award, Friends of the United Nations, New York, Amerika Serikat
·         2003 World Peace Prize Award, World Peace Prize Awarding Council (WPPAC), Seoul, Korea Selatan
·         2003 Dare to Fail Award , Billi PS Lim, penulis buku paling laris "Dare to Fail", Kuala Lumpur, Malaysia
·         2002Pin Emas NU, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Jakarta, Indonesia.
·         2002 Gelar Kanjeng Pangeran Aryo (KPA), Sampeyan dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono XII, Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia
·         2001 Public Service Award, Universitas Columbia , New York , Amerika Serikat
·         2000 Ambassador of Peace, International and Interreligious Federation for World peace (IIFWP), New York, Amerika Serikat
·         2000 Paul Harris Fellow, The Rotary Foundation of Rotary International
·         1998 Man of The Year, Majalah REM, Indonesia
·         1993 Magsaysay Award, Manila , Filipina
·         1991 Islamic Missionary Award , Pemerintah Mesir
·         1990 Tokoh 1990, Majalah Editor, Indonesia
·         Doktor Kehormatan:
·         Doktor Kehormatan bidang Filsafat Hukum dari Universitas Thammasat, Bangkok, Thailand (2000)
·         Doktor Kehormatan dari Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand (2000
·         Doktor Kehormatan bidang Ilmu Hukum dan Politik, Ilmu Ekonomi dan Manajemen, dan Ilmu Humaniora dari Pantheon Universitas Sorbonne, Paris, Perancis (2000)
·         Doktor Kehormatan dari Universitas Chulalongkorn, Bangkok, Thailand (2000)
·         Doktor Kehormatan dari Universitas Twente, Belanda (2000)
·         Doktor Kehormatan dari Universitas Jawaharlal Nehru, India (2000)
·         Doktor Kehormatan dari Universitas Soka Gakkai, Tokyo, Jepang (2002)
·         Doktor Kehormatan bidang Kemanusiaan dari Universitas Netanya, Israel (2003)
·         Doktor Kehormatan bidang Hukum dari Universitas Konkuk, Seoul, Korea Selatan (2003)
·         Doktor Kehormatan dari Universitas Sun Moon, Seoul, Korea Selatan (2003)




Selasa, 07 Februari 2017

SENGGIGI BEACH

Senggigi Beach, A Beautiful Beach in Lombok Island

Senggigi Beach is the main tourist destinations in Lombok Island. When you visit Lombok, it is almost impossible to miss Senggigi.Senggigi is one of the most interesting tourist objects in Lombok.Senggigi has an amazing panorama. The sea and its surrounding area is wonderful. It’s a perfect place to relax and refresh your mind. The beach has panoramic view, it’s comparable to Kuta Bali. 


          You can find complete facilities in the beach, like restaurants, bars, travel agents, hotels, money changers, photo processors and discotheques. Since the beach is very popular among tourists, the government keeps developing it into the most attractive tourist object, not only in Lombok but also all around the world.




Location
          Senggigi Beach lies in Lombok Island, West Nusa Tenggara Indonesia. There are certain alternatives accesses to the beach. If you are at Lembar Harbour, you can continue your journey straight towards Senggigi by Perama Shutlle bus, or other buses available. You can also go by taxi which is available on call for 24 hours. If you are coming to Lombok by plane, you can also directly go by taxi. Many taxis are available at the airport, and it will take you to the hotel you will stay. You need to pay for about Rp35,000 (US$4.00) for the taxi. Then, if you want to go to Senggigi from your hotel, you can go by public transportations, called bemo. The trip for the bemo is Ampenan-Senggigi or Senggigi-Ampenan one way. You need to pay for Rp1,500 for the bemo. Ojek is also available to take you to Senggigi.  

Activities
          Actually, there are many activities you can do in Senggigi Beach like snorkeling, sea kayaking, bicycling, massages, surfing, diving, spear fishing, trekking and hiking. The beach has calm but strong waves to allow surfers to have a challenging surfing. Surfing will give a great experience. To relax your body, you can have traditional massages. The massages are served by local Sasak women. This is therapeutic massages, and you will feel fresh after having the therapy. To have a great adventure, you can do trekking and hiking. You can learn the natural forest near the beach and the species that you may be able to find.

Accommodations
          As we know, Senggigi Beach is a very popular beach in Lombok. And that is why you don’t have to worry about where you have to stay. There are a wide range of hotels, from budget to splurge ones. For example, you can stay in the Beach Club for budget rate. You need to pay for about Rp150,000 to Rp600,000 (US16.00 to US$63.00) per night depending on the room type. You can also select Puri Bunga for mid-range rate. You need to pay for Rp390,000 to Rp720,000 (US40.00 to US$75.00) per night. Otherwise, you can stay in Living Asia Resort for splurge rate. You have to spend Rp650,000 to Rp1,650,000 (US$67 to US$170) per night.
          When you have your holiday, it is better for you to take a trip to Lombok, a beautiful island in West Nusa Tenggara. And you can include Senggigi Beach in your travel plan and you will enjoy the panoramic view of the beach.




Note: For me, until now i've never go to Lombok island. And i hope when i go there i can play to senggigi beach and share my experience when i go there for you all.

Selasa, 24 Januari 2017

BIODATA

Di postingan pertama ini,saya akan memperkenalkan diri.
karena adanya kalimat TAK KENAL MAKA TAK SAYANG

Karna itu tetep di tunggu post post an  ya..

Nama panjang : Oktafinanda Dwi Ayu Permata Sarahwati
Nama Panggilan : Nanda, Okta.
TTL : Sidoarjo,02 Oktober 2002
Zodiak : Libra

Hamdalah, dari judulnya aja Find more about K.
K = Korea
Yang entah diisi dengan K-Pop atau tentang kebudayaan yang ada disana.

Sekian.